Jamuan Kala Senja

Senja berubah membiru

Seakan dia mulai bosan dengan kebiasaan semu,

Jingga tak lagi disebut manusia

Karena ia mulai berubah menjadi angkara,

Lanjutkan membaca “Jamuan Kala Senja”

Iklan

75% dari pertemuan kuliah yang seharusnya diselenggarakan

Selasa dini hari tanggal 18 Juli 2017 sekitar jam 03.30 saya baru sampai di Yogyakarta. Sehari sebelumnya saya menghadiri acara pernikahan abang saya yang bertepatan dengan dimulai nya Ujian Akhir Semester di Universitas. Beruntung di hari pernikahan abang tidak ada jadwal ujian, sehingga saya bisa menghadiri acara akad dan resepsi pernikahan. Tanggal yang bagus untuk memulai sebuah “masa yang baru”, 17 – 07 – 2017. Yah, walaupun saya harus ngeluarin ongkos dan tenaga ekstra untuk transportasi, tapi itu tidak menjadi masalah. Lah wong namanya demi keluarga. Namun esok hari setelah pernikahan saya harus sudah berada di Yogyakarta, karena selasa jam 12.45 siang saya harus menghadiri kelas untuk melaksanakan ujian.

Lanjutkan membaca “75% dari pertemuan kuliah yang seharusnya diselenggarakan”

Perubahan Cuaca

Cuaca dingin sangat menyiksa akhir-akhir ini. Beberapa hari sebelum Sasmita tertidur aku berplesiran ke kampong halaman ku di Provinsi Honolulu. Cuaca di desa ku sangat panas dan lembab, berbeda dengan cuaca di kerajaanku akhir-akhir ini. Perubahan cuaca ini dimulai setelah Sasmita tertidur, cuaca dingin menggelayuti kerajaan seni kecilnya. Tepatnya dari sekitar Jalan Kaliurang Km. 9,5 sampai Jalan Kaliurang atas. Memang biasanya di ngaglik berhawa dingin, namun cuaca dingin kali ini berbeda. Semua orang pasti akan merasakan kedinginan yang sama dengan ku, karena perpindahan tempat yang kami lakukan. Aku sudah mulai terbiasa dengan kondisi cuaca di kampong halaman ku waktu itu, dipaksa untuk pindah ke daerah ini untuk melanjutkan ke pemimpinan ku di kerajaan membuatku merasa tersiksa. Tiba di kerajaan kondisi cuacanya sangat berbeda. Memang perpindahan atau adaptasi dari satu kondisi ke kondisi lainnya membutuhkan tenaga dan waktu.

Lanjutkan membaca “Perubahan Cuaca”

Berlari Gara-gara Murakami

Masih menyambung hari ku. Sabtu, 22 Agustus 2015 di Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Mata seakan tak pernah mau berkompromi dengan datangnya malam. Pagi buta setelah adzan subuh aku meyakinkan diri untuk keluar Istana. Pintu depan terbuka dengan sendirinya karena sistem otomatis yang telah ku instal pada seluruh bangunan Kerajaan. Halaman yang dijaga oleh lima orang pengawal langsung hormat ketika mengatahui aku keluar. Pengawal langsung memberikan hormat dengan membungkuk ke arah ku. Aku tak membalasnya. Menuju pintu gerbang, pengawal dengan sigap langsung membuka gerbang. Masih dengan sikap membungkuk. Saya tidak jadi keluar dan memutari halaman, ditengahnya terdapat air mancur yang terbuat dari marmer Italia. Marmer ini aku pesan karena melihat siaran iklan produk di tv yang menjual kalung kesehatan yang terbuat dari marmer Italia. Marmer ini sangat mahal harganya. Ku minta pekerja pembangun kerajaan untuk memasang kalung itu melingkar menghiasi seluruh bangunan air mancur. Untuk menunjukkan betapa kaya dan sejahter kerajaan. Tujuan ku membangun air mancur dari marmer adalah untuk menjadikan tanda betapa kaya dan sejahtera kerajaan ku. Aku berkeliling memutari air mancur itu dan kemudian berhenti untuk duduk bersantai.

Lanjutkan membaca “Berlari Gara-gara Murakami”

Dewi yang Meninggalkan ku Tertidur

“Duhai dewi yang meningglakan ku tertidur. Jangan lah terlalu lama berpisah dengan ku.” Sehari setelah malam yang panjang bagi ku. Perpisahan memang akan selalu menjadi takdir yang menyakitkan bagi setiap insan. Hancurnya hati ketika tahu kita akan ditinggalkan sesorang yang kita kasihi. Sungguh perih yang tak dapat dihindari ketika kita merasakan yang telah terjadi. Ini kah takdir tuhan kepada hamba-Mu, tidak kah pantas aku dengan dewi-Mu yang ayu. Kurang kah aku sekufu dengan Sasmita sehingga Engkau tega membiarkan aku terluka. Aku sangat membenci peraturan-Mu duhai Tuhan ku.

Lanjutkan membaca “Dewi yang Meninggalkan ku Tertidur”

Dewi Sasmita, Bangunlah Kerajaan Seni Kecil nya

Image_d7d3503.jpg

Caption foto : Dua penjaga Kerajaan Seni Kecil nya memastikan keamanan gedung. Take by : Nasrul Haqqi

Saya berada di ruangan yang kecil. Cerah penuh cahaya, dan segar dengan angin yang berhembus. Ruangan ini berada di sebuah bangunan yang sangat besar. Kokoh berdinding batu, dan aman dengan banyaknya penjagaan. Inilah kerajaan seni kecil nya. Tempat yang memberikan inspirasi cerita di saat kalian menemani ku membaca tulisan ini. Ruangan penuh sejarah dan bercak cairan kehidupan yang banyak orang menganggap menjijkan. Inilah kenikmatan, imaji diri akan keindahan tubuh dewi.

Lanjutkan membaca “Dewi Sasmita, Bangunlah Kerajaan Seni Kecil nya”

Konsep Cinta di Indonesia

Capture 1.PNG

Bila boleh saya bependapat dan boleh saudara sekalian membenarkan, masa paling abu-abu di Indonesia ini adalah masa remaja. Jadi wajar kalau identitas itu kemudian di wujudkan dalam bentuk tampilan fisik sebagai seragam siswa SMA. Kemudian muda beberapa tahun identik dengan warna biru dekil pelajar SMP. Sifat bawaannya adalah polos. Entah itu pura-puran polos atau sok-sok an anti polos. Dahulu ketika kita kecil sifat wajib yang harus di miliki oleh seorang bocah adalah berani. Berani untuk mencari tahu, ada juga yang terlalu berani kemudian kebablasan menjadi nakal, lalu untuk yang agak sedikit berani kita sebut cupu. Wujud dari sifat berani itu kita simbolkan dengan seragam merah anak SD.

Lanjutkan membaca “Konsep Cinta di Indonesia”